Naruto Uzumaki - Vertical Select | Pengetahuan

Senin, 12 Februari 2018

PENGERTIAN DIABETES INSIPIDU

Pengertian Diabetes Insipidus

Diabetes insipidus adalah kondisi yang cukup langka, dengan gejala selalu merasa haus dan pada saat bersamaan sering membuang air kecil dalam jumlah yang sangat banyak. Jika sangat parah, penderitanya bisa mengeluarkan air kencing sebanyak 20 liter dalam sehari.
Diabetes insipidus sendiri berbeda dengan diabetes melitus. Diabetes melitus adalah penyakit jangka panjang yang ditandai dengan kadar gula darah di atas normal. Diabetes insipidus, pada lain sisi tidak terkait dengan kadar gula dalam darah.
Diabetes insipidus-Alodokter

Penyebab Diabetes Insipidus

Terjadinya diabetes insipidus dikarenakan gangguan pada hormon antidiuretik (antidiuretic hormone/ADH) yang mengatur jumlah cairan dalam tubuh. Hormon ini dihasilkan hipotalamus, yaitu jaringan khusus di otak. Hormon ini disimpan oleh kelenjar pituitari setelah dihasilkan oleh hipotalamus.
Kelenjar pituitari akan mengeluarkan hormon antidiuretik ini saat kadar air di dalam tubuh terlalu rendah. ‘Antidiuretik’ berarti bersifat berlawanan dengan ‘diuresis’. ‘Diuresis’ sendiri berarti produksi urine. Hormon antidiuretik ini membantu mempertahankan air di dalam tubuh dengan mengurangi jumlah cairan yang terbuang melalui ginjal dalam bentuk urine.
Yang menyebabkan terjadinya diabetes insipidus adalah produksi hormon antidiuretik yang berkurang atau ketika ginjal tidak lagi merespons seperti biasa terhadap hormon antidiuretik. Akibatnya, ginjal mengeluarkan terlalu banyak cairan dan tidak bisa menghasilkan urine yang pekat. Orang yang mengalami kondisi ini akan selalu merasa haus dan minum lebih banyak karena berusaha mengimbangi banyaknya cairan yang hilang.
Diabetes insipidus sendiri terbagi menjadi dua jenis utama, yaitu:
  • Diabetes insipidus kranial. Diabetes insipidus jenis ini yang paling umum terjadi. Disebabkan tubuh tidak memiliki cukup hormon antidiuretik dari hipotalamus. Kondisi ini bisa disebabkan oleh kerusakan pada hipotalamus atau pada kelenjar pituitari. Kerusakan yang terjadi bisa diakibatkan oleh terjadinya infeksi, operasi, cedera otak, atau tumor otak.
  • Diabetes insipidus nefrogenik. Diabetes insipidus jenis ini muncul ketika tubuh memiliki hormon antidiuretik yang cukup untuk mengatur produksi urine, tapi organ ginjal tidak merespons terhadapnya. Kondisi ini mungkin disebabkan oleh kerusakan fungsi organ ginjal atau sebagai kondisi keturunan. Beberapa obat-obatan yang digunakan untuk mengatasi penyakit mental, seperti lithium, juga bisa menyebabkan diabetes insipidus jenis ini.
Jika Anda mengalami gejala diabetes insipidus, seperti selalu merasa haus dan buang air kecil melebihi dari biasanya, sebaiknya segera temui dokter. Mungkin yang Anda alami bukan diabetes insipidus, tapi akan lebih baik untuk mengetahui penyebabnya.
Orang dewasa buang air kecil sebanyak 4-7 kali dalam sehari, sedangkan anak kecil melakukannya hingga 10 kali dalam sehari. Hal ini dikarenakan kandung kemih anak-anak berukuran lebih kecil. Dokter akan melakukan beberapa tes untuk mengetahui penyebab pastinya dan diagnosis terhadap kondisi yang dialami.

Pengobatan Diabetes Insipidus

Pada diabetes insipidus kranial, pengobatan mungkin tidak perlu dilakukan pada kasus yang ringan. Untuk mengimbangi jumlah cairan yang terbuang, Anda perlu mengonsumsi air lebih banyak. Terdapat obat yang berfungsi untuk meniru peran hormon antidiuretik bernama desmopressin. Jika memang diperlukan, Anda bisa mengonsumsi obat ini.
Sedangkan pada diabetes insipidus nefrogenik, obat yang digunakan untuk mengatasinya adalah thiazide diuretik. Obat ini berfungsi menurunkan jumlah urine yang dihasilkan oleh organ ginjal.

Komplikasi Diabetes Insipidus

Rendahnya jumlah air atau cairan dalam tubuh dinamakan dehidrasi. Ini adalah salah satu komplikasi yang disebabkan oleh diabetes insipidus. Jika dehidrasi yang terjadi cukup ringan, Anda bisa minum oralit untuk mengatasinya. Tapi penanganan di rumah sakit akan diperlukan jika dehidrasi yang dialami cukup parah.

sumber:http://www.alodokter.com/diabetes-insipidus

Read More ->>

PENGERTIAN HEMATURIA

Pengertian Hematuria

Hematuria adalah istilah medis yang menandakan adanya darah di dalam urine. Urine akan berubah warna menjadi kemerahan atau sedikit kecokelatan. Urine yang normal tidak mengandung darah sedikitpun, kecuali pada wanita yang sedang menstruasi. Hematuria sering terlihat sangat menakutkan dan menimbulkan kekhawatiran, namun kondisi ini jarang menjadi pertanda penyakit yang membahayakan nyawa Anda. Meski begitu, Anda harus segera memeriksakannya ke dokter untuk mengetahui penyebab munculnya darah di dalam urine.
Terkadang, terdapat pula darah yang muncul di dalam urine meski tidak kasat mata. Kondisi ini sering disebut sebagai hematuria mikroskopik. Darah yang terkandung dalam urine hanya bisa dilihat di laboratorium dengan memakai mikroskop. Meski begitu, dokter tetap perlu memeriksa penyebab munculnya darah dalam urine.
Hematuria-Alodokter
Darah yang ada dalam urine umumnya berasal dari sistem saluran kemih, seperti:
  • Kandung kemih. Tempat menyimpan urine.
  • Uretra. Saluran yang dilewati urine dari kandung kemih menuju ke luar tubuh.
  • Ureter. Saluran dari ginjal menuju ke kandung kemih.
  • Ginjal. Organ yang berfungsi menyaring darah.
Hematuria pada umumnya muncul akibat kondisi medis lain yang mendasarinya. Pengobatan yang diberikan akan disesuaikan dengan penyakit yang mendasari tersebut. Misalnya, jika hematuria disebabkan oleh infeksi saluran kemih, maka dokter akan memberikan resep antibiotik. Namun jika disebabkan oleh batu ginjal, pengobatan bisa dilakukan dengan obat pereda sakit, obat tamsulosin untuk memperlancar keluarnya batu, hingga operasi. Periksakan diri ke dokter jika Anda merasa warna urine tidak seperti biasanya.

Gejala Hematuria

Tanda-tanda yang jelas terlihat dari hematuria adalah perubahan warna urine menjadi merah muda, kemerahan, atau kecokelatan karena mengandung sel darah merah. Umumnya hematuria tidak terasa sakit, tapi jika muncul darah yang menggumpal bersama dengan urine, kondisi ini akan menjadi menyakitkan.
Beberapa kasus hematuria memang tidak disertai gejala lain sama sekali. Namun ada juga yang mengalami lebih dari hematuria. Gejala-gejala yang menyertai hematuria akan tergantung pada penyebab dasarnya, seperti frekuensi buang air kecil yang meningkat, sakit pada perut bagian bawah, atau bahkan kesulitan buang air kecil. Masing-masing ini akan kita bahas lebih mendalam di bagian penyebab terjadinya hematuria.

Penyebab Terjadinya Hematuria

Untuk mengetahui dengan pasti apakah terdapat darah pada urine dan memastikan penyebabnya, Anda disarankan untuk memeriksakan diri ke dokter. Berikut ini beberapa penyebab umum munculnya darah dalam urine.
  • Infeksi saluran kemih. Kondisi ini terjadi ketika bakteri memasuki tubuh melalui uretra dan berkembang biak di dalam kandung kemih. Gejala lain selain hematuria adalah keinginan untuk terus buang air kecil, sakit dan sensasi rasa terbakar saat buang air kecil, dan urine yang beraroma kuat.
  • Infeksi ginjal. Gejala yang lainnya adalah demam dan juga sakit pada sisi punggung bagian bawah.
  • Batu ginjal. Jika batu cukup kecil, kondisi ini tidak menimbulkan rasa sakit. Tapi jika batu berukuran besar dan menghalangi salah satu saluran dari ginjal, akan menyebabkan sakit yang parah.
  • Pembengkakan kelenjar prostat. Kondisi yang umum ini tidak terkait dengan kanker prostat dan cenderung terjadi pada pria dewasa. Kondisi ini bisa menyebabkan kesulitan buang air kecil dan sering buang air kecil.
  • Kanker prostat. Kondisi ini bisa disembuhkan jika diketahui dan ditangani sejak dini. Cenderung terjadi pada pria berusia di atas 50 tahun. Perkembangan kondisi ini sangat perlahan.
  • Kanker kandung kemih. Kondisi ini lebih sering terjadi pada mereka yang berusia di atas 50 tahun.
  • Kanker ginjal. Kondisi ini biasanya terjadi pada orang-orang di atas usia 50 tahun. Kanker ini bisa disembuhkan apabila terdeteksi dan diobati sejak dini.
  • Peradangan pada uretra. Kondisi yang umumnya disebabkan oleh penyakit menular seksual seperti klamidia, akibat terinfeksi bakteri klamidia.
  • Kelainan genetik. Anemia sel sabit adalah kerusakan hemoglobin sel darah karena faktor keturunan. Kondisi ini bisa menyebabkan munculnya darah dalam urine. Selain anemia sel sabit, sindrom Alport juga bisa menyebabkan hematuria. Sindrom ini memengaruhi jaringan penyaring pada ginjal.
  • Obat-obatan. Obat anti kanker seperti cyclophosphamide dan penicillin bisa menyebabkan hematuria. Terkadang, kemunculan darah di urine juga bisa dipengaruhi oleh obat-obatan antikoagulan seperti aspirin dan obat pengencer darah seperti heparin.
  • Olahraga secara berlebihan. Kondisi ini mungkin jarang sekali terjadi dan tidak diketahui dengan pasti kenapa bisa menyebabkan terjadinya hematuria, tapi salah satu keterkaitannya adalah karena terjadi trauma pada kandung kemih yang mengalami dehidrasi akibat aktivitas fisik yang berlebihan.
Selain hematuria, ada hal lain yang bisa menyebabkan urine berubah warna menjadi merah muda, kemerahan, atau kecokelatan. Makanan dan obat-obatan bisa menjadi salah satu penyebab perubahan warna urine. Buah bit dan beri bisa mengubah warna urine jadi berwarna merah. Lalu obat-obatan seperti antibiotik nitrofurantoin dan obat laksatif sanna bisa membuat warna urine berubah menjadi kemerahan.
Perubahan warna yang disebabkan oleh makanan dan obat seperti di atas akan menghilang dalam beberapa hari. Jika Anda seorang wanita, pastikan darah yang keluar bukan akibat menstruasi.

Diagnosis Hematuria

Untuk memastikan bahwa perubahan warna pada urine disebabkan oleh adanya darah, dokter akan melakukan tes urine. Setelah tes urine, Anda mungkin perlu melakukan tes darah untuk memeriksa fungsi ginjal.
Tes pencitraan CT scan, ultrasound ginjal, dan pyelografi intravena bisa dilakukan untuk mengenali apakah terdapat batu ginjal atau kelainan lain pada sistem saluran kemih. Dokter juga akan menanyakan beberapa hal, termasuk riwayat kesehatan Anda.
Tes pengambilan sampel jaringan seperti sistoskopi dan biopsi ginjal adalah prosedur lebih intensif yang akan dilakukan jika penyebab hematuria masih belum diketahui. Sistoskopi dilakukan untuk menentukan apakah terdapat sel abnormal atau sel kanker pada kandung kemih. Sedangkan biopsi ginjal dilakukan untuk mencari tahu apakah terdapat kondisi tertentu pada ginjal Anda.

Pengobatan dan Pencegahan Hematuria

Tidak ada pengobatan khusus untuk menangani hematuria, terlebih jika gejalanya tidak serius. Untuk menangani kasus hematuria, umumnya dokter akan fokus menangani penyakit lain yang diduga menjadi penyebab munculnya hematuria, seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya. Penanganan itu dilakukan dengan cara:
  • Memberikan antibiotik untuk mengobati infeksi saluran kemih,
  • Memberikan resep obat untuk meredakan pembengkakan prostat.
  • Melakukan shock wave therapy atau terapi gelombang kejut untuk memecahkan batu ginjal dan kandung kemih.
Jika dokter tidak menemukan penyebab utama hematuria, Anda akan diminta untuk melakukan tes urine dan dokter akan memantau kondisi tekanan darah Anda setiap tiga sampai enam bulan sekali. Agar terhindar dari hematuria, Anda harus mencegah beberapa penyakit yang berpotensi menyebabkan hematuria, di antaranya:
  • Batu ginjal. Agar terhindar dari penyakit batu ginjal, Anda disarankan agar meminum banyak air mineral, membatasi konsumsi garam, makanan yang mengandung protein dan oksalat seperti bayam.
  • Kanker ginjal. Untuk mencegah kanker ginjal, hentikan kebiasaan merokok, mengendalikan berat badan, mengonsumsi makanan yang sehat dan teratur, rajin berolahraga, serta jauhkan diri dari paparan bahan kimia beracun.
  • Infeksi saluran kemih. Untuk mengurangi risiko terkena infeksi saluran kemih, usahakan agar mengonsumsi air mineral dan buang air kecil saat merasakan tekanan. Khusus untuk wanita, Anda wajib membersihkan organ vital dari depan ke belakang setelah buang air kecil dan hindari penggunaan produk pembersih area kewanitaan karena justru bisa menyebabkan iritasi di organ vital Anda.
  • Kanker kandung kemih. Berhenti merokok, menghindari paparan bahan kimia, mengonsumsi banyak air mineral bisa membantu Anda dalam mengurangi risiko terkenda kanker kandung kemih.

Pencegahan Hematuria

Secara garis besar, hematuria tidak dapat dicegah. Namun ada beberapa strategi pencegahan yang dapat Anda lakukan untuk menurunkan risiko terjangkitnya penyakit yang menyebabkan hematuria, antara lain:
  • Infeksi saluran kemih. Untuk menurunkan risiko infeksi saluran kemih, minumlah air putih dalam jumlah yang mencukupi, tidak menahan kencing, serta membersihkan vagina dari arah depan ke belakang (anus) bagi para wanita.
  • Batu ginjal. Untuk mencegah terjadinya batu ginjal, perbanyak konsumsi air putih dan kurangi konsumsi makanan yang tinggi garam, protein, dan oksalat seperti bayam dan talas.
  • Kanker kandung kemih. Hindari atau hentikan kebiasaan merkok, hindari paparan terhadap bahan-bahan kimia, serta minumlah air dalam jumlah banyak untuk mengurangi risiko terjadinya kanker kandung kemih.
  • Kanker ginjal. Anda dapat mengurangi risiko untuk menderita kanker ginjal dengan cara menghindari atau menghentikan kebiasaan merokok, menjaga berat badan agar tetap dalam batas normal, makan makanan yang bergizi, olahraga teratur, serta mengurangi paparan terhadap bahan-bahan kimia.

Faktor yang Meningkatkan Risiko Hematuria

Hematuria bisa terjadi pada siapa pun, termasuk pada anak-anak dan remaja. Ada beberapa faktor yang meningkatkan risiko kemunculan hematuria, di antaranya:
  • Infeksi. Ginjal yang mengalami peradangan karena pengaruh virus atau bakteri bisa meningkatkan risiko hematuria.
  • Usia. Sebagian besar pria berusia di atas 50 tahun mengalami hematuria karena pengaruh pembengkakan kelenjar prostat.
  • Keturunan. Jika keluarga Anda memiliki riwayat hematuria, batu ginjal, atau penyakit ginjal lainnya, Anda berpotensi mengalami hematuria.
  • Pengobatan tertentu. Penggunaan obat-obatan seperti aspirin, obat anti inflamasi non steroid dan antibiotik tertentu bisa meningkatkan risiko hematuria.
  • Jenis kelamin. Mayoritas wanita pernah mengalami infeksi saluran kemih paling tidak sekali seumur hidup. Hal itu menyebabkan terjadinya hematuria.
  • Olahraga berlebihan. Pelari jarak jauh sangat rentan terhadap pendarahan di urine. Kondisi ini sering disebut sebagai hematuria jogger. Bukan hanya pelari, siapapun yang berolahraga secara berlebihan berpotensi merasakan gejala-gejala hematuria.
Ditinjau oleh : dr. Marianti
sumber:http://www.alodokter.com/hematuria
Read More ->>

Albuminuria : Penyebab, Ciri Ciri, Gejala, Pencegahan dan Cara Mengobati

Albuminuria : Penyebab, Ciri Ciri, Gejala, Pencegahan dan Cara Mengobati

Pada masyarakat awam penyakit ginjal yang sering didengar dan dialami antara lain batu ginjal,kanker ginjal dan gagal ginjal. Namun ada beberapa penyakit lainnya yang dapat menyerang ginjal dan meskipun hanya sedikt penderitanya bukan berarti penyakit ini tidak berbahaya. Albuminuria salah satunya. Albuminuria adalah suatu kondisi dimana protein albumin yang terdapat di dalam urin jumlahnya berlebih. Seperti diketahui bahwa tubuh kita memerlukan berbagai macam zat zat untuk membuat tubuh kita dapat beraktivitas dengan baik. Tubuh kita memerlukan mineral,garam,zat besi, vitamin A B C D E, karbohidrat, lemak dan protein. Zat zat tersebut kita butuhkan dalam keadaan yang cukup tidak berlebih atau berkurang. Zat zat tersebut dikonversi menjadi energi yang membuat tubuh kita bersemangat. Ketika tubuh kita kekurangan zat zat tersebut maka penyakit akan mudah datang dan tubuh kita akan mudah sekali lemah. Zat zat tersebut bisa kita dapatkan melalui makanan yang kita konsumsi sehari hari.
ads
Albumin adalah sejenis protein yang fungsinya adalah untuk mencegah merembesnya cairan yang terdapat didalam darah yang akan keluar menuju ke jaringan yang lain. Albumin itu sendiri adalah protein utama yang terdapat pada darah sementara protein merupakan senyawa komples yang tersebar di hampir seluruh bagian tubuh kita hingga bagian kecil seperti kuku. Protein yang terdapat dalam aliran darah manusia memiliki berbagai fungsi penting diantaranya untuk proses pembekuan darah, melindungi tubuh dari berbagai infeksi dan menjaga cairan yang ada di dalam tubuh manusia agar dalam keadaan yang seimbang. ( Baca juga : glukosaria )
Fungsi ginjal adalah untuk menyaring dan memilih mana zat zat yang akan dibuang keluar dari tubuh manusia dan zat zat apa yang masih berguna bagi tubuh manusia. Ketika fungsi ginjal ini rusak maka ginjal tidak mampu menyaring zat zat tersebut sehingga zat zat yang seharusnya terbuang dari dalam tubuh justru akan mengendap di dalam tubuh dan zat zat masih berguna bagi tubuh dikeluarkan dari dalam tubuh bersama urin. Albumin dan protein merupakan zat zat yang masih berguna bagi tubuh manusia, rusaknya fungsi ginjal dalam penyaringan membuat tubuh manusia kekurangan banyak protein dan kondisi ini bisa menyebabkan kerusakan ginjal dan bahkan dapat menyebabkan gagal ginjal. Berikut ini berbagai macam penyebab terjadinya Albuminuria. (Baca juga : kebiasaan penyebab gagal ginjal  )

Penyebab Albuminuria

  1. Diabetes
Diabetes merupakan kondisi dimana kadar gula yang terdapat pada tubuh manusia melebihi kadar normal rata rata manusia. Keadaan ini yang menyebabkan rusaknya ginjal sehingga ginjal gagal melakukan proses filtrasi. (Baca juga : kelainan ginjal )
  1. Hipertensi
Tekanan darah tinggi dapat menyebabkan kerusakan pada ginjal pula. ( Baca juga : ginjal polikistik )
  1. Pre eklampsia
Pre eklampsia dan hipertensi gestasional terjadi pada wanita yang sedang hamil. Hipertensi gestasional adalah tekanan darah tinggi yang terjadi pada ibu hamil. ( Baca juga : tanda awal gagal ginjal )
  1. Daya tahan tubuh yang lemah
Sistem imun yang lemah akan membuat bakteri dan virus dengan mudah menyerang ginjal. Sehingga yang terjadi adalah rusaknya ginjal dan beberapa fungsi ginjal tidak bekerja dengan baik. ( Baca juga : macam macam penyakit ginjal )
  1. Kurangnya cairan
Kurangnya cairan dalah tubuh menyebabkan terjadinya dehidrasi yang menyebabkan penumpukkan protein di dalam ginjal sehingga tidak mampu diproses dengan baik oleh ginjal. ( Baca juga : penyebab radang ginjal )
  1. Kurangnya protein
Protein yang masuk ke dalam tubuh manusia jumlahnya di bawah jumlah yang dibutuhkan tubuh. Sementara, Vitamin C dan kalsium jumlahnya terlalu melimpah sehingga dapat merusak glomerulus. ( Baca juga : ciri ciri ginjal bocor )
  1. Obat obatan
Sangat penting untuk berkonsultasi dengan dokter mengenai obat apa saja yang dapat dikonsumsi dengan aman dan tidak menyebabkan alergi pada tubuh. Bagi sebagian orang mereka terkena alergi apabila mengonsumsi obat yang mengandung zat zat tertentu. ( Baca juga : ciri ciri ginjal bermasalah )

Ciri ciri Albuminuria

  1. Urin mengandung protein
Urin yang mengandung protein biasanya ditandai oleh warna urin yang berubah menjadi keruh, adanya nanah ketika buang air kecil, dan memiliki bau yang menusuk. ( Baca juga : ciri ciri penyakit batu ginjal )
  1. Nyeri pinggang
Ketika mengalami penyakit ginjal maka bagian yang paling merasakan sakit ialah pinggang. Karena ginjal berada di bagian belakang atas kanan dan kiri tubuh manusia. Nyeri pinggang terjadi karena jaringan penyaringan cairan dalam ginjal mengalami kerusakan. ( Baca juga : ciri ciri ginjal sehat )
  1. Pembengkakan pada bagian tubuh
Pada orang yang terkena Albuminuria akan mengalami pembengkakan yang terjadi pada beberapa anggota tubuh. Pembengkakan ini terjadi karena adanya cairan yang menumpuk pada ginjal.( Baca juga : penyebab ginjal bengkak )
  1. Tubuh cepat lelah
Albuminuria menyebabkan tubuh kekurangan protein, kekurangan protein ini menyebabkan tubuh lebih gampang lelah dan letih. ( Baca juga : ciri ciri ginjal rusak )

Gejala gejala Albuminuria

  1. Pembengkakan pada perut
Pembengkakan pada perut terjadi karena adanya kerusakan atau ketidaknormalan yang terjadi pada proses eskresi. Metabolisme yang terjadi di dalam tubuh tidak berjalan dengan baik dan menyebabkan pembengkakan yang terjadi pada perut. ( Baca juga :  cara mengobati batu ginjal)
  1. Pembengkakan pada kaki
Pembengkakan pada kaki bisa menandakan adanya penyakit yang menyerang tubuh manusia. Misalnya penyakit jantung dan ginjal atau bisa juga penyaki penyakit lainnya. Selain hal ini dapat menganggu aktivitas sehari hari, pembengkakan pada kaki juga harus diperiksa dengan segera ke dokter untuk mengetahui adakah penyakit lain yang bersarang di dalam tubuh. ( Baca juga : penyebab ginjal mengecil )
  1. Pembengkakan pada wajah
Pembengkakan pada wajah sangat menganggu pada sebagian besar orang. Selain itu rasa sakit yang diderita juga membuat badan merasa tidak enak. Pembengkakan pada wajah dapat terjadi karena kenaikan berat badan, sakit gigi atau albuminuria. ( Baca juga : makanan penyebab sakit ginjal )
  1. Pembengkakan pada tangan
Pembengkakan pada tangan bisa menjadi tanda terjadinya asam urat atau juga albuminuria.
  1. Tidak ada gejala khusus
Pada sebagian orang yang terkena Albuminuria bisa jadi mereka tidak memiliki tanda tanda khusus. Mereka baru mengetahui mereka terkena Albuminuria ketika mereka datang ke dokter untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut.
Diagnosa Albuminuria
Pemeriksaan diagnostik Albuminuria dilakukan dengan melakukan tes urin yang kemudian akan diuji berapa kadar albumin yang terdapat pada urin manusia. Normalnya kadar albumin berada dikisaran kurang atau sama dengan 2,5 mg/mmol pada pria dan kurang dari atau sama dengan 3, mg/mmol pada wanita.

Pencegahan Albuminuria

  1. Minum air putih yang cukup
Dalam sehari manusia minimal mengonsumsi air putih paling sedikit 8 gelas sehari. Kurangi minuman alkohol dan berasa untuk menstabilkan kadar albumin yang ada dalam tubuh untuk menghidari penyakit Albuminuria.
  1. Mengonsumsi buah buahan berserat
Mengonsumi buah buahan sangat baik untuk tubuh agar tubuh terasa sehat dan segar. Buah buahan yang berserat seperti apel dan anggur baik untuk mencegah terjadinya kelebihan zat protein di dalam tubuh manusia sehingga fungsi ginjal dapat berlangsung dengan baik.
  1. Kurangi makan garam
Garam ternyata dapat menganggu fungsi ginjal dalam mengendalikan cairan yang ada dalam tubuh.

Pengobatan albuminuria

  1. Melakukan pengontrolan kadar gula dalam tubuh
Albuminuria dapat terjadi karena diabetes. Untuk mengurangi risiko Albuminuria semakin parah maka cara yang bisa dilakukan adalah mengontrol kadar gula yang ada didalam darah. Untuk mengontrol darah ini biasanya dokter menyarankan pasien untuk melakukan diet, olahraga yang cukup dan makan makanan yang mengandung sedikit gula dan juga dengan mengonsumsi obat untuk menekan kadar gula dalam darah
  1. Ace inhibitor
Ace inhibitor biasanya direkomendasikan untuk orang yang memiliki hipertensi. Para penderita yang terkena Albuminuria dikarenakan hipertensi disarankan untuk menjaga tekanan darah mereka pada angka dibawah 140/90 mmHg.
  1. Penggunaan diuretik dosis
Diuretik dosis digunakan untuk mengurangi jumlah albumin dalam tubuh dan dilakukan secara berulang agar kadar albumin dalam keadaan normal.
  1. Terapi steroid
Terapi ini digunakan untuk mengurangi kadar protein dalam urin
Albuminuria merupakan salah satu penyakit ginjal yang seringkali membuat tubuh penderita lemah karena kekurangan protein. Kekurangan protein ini terjadi karena gagalnya fungsi ginjal dalam menyaring zat zat yang masih berguna bagi tubuh. Hal hal yang dapat membuat tubuh kita terhindar dari  Albuminuria ialah minum yang cukup dan juga menjaga berat badan.
sumber:https://ahliginjal.com/albuminuria
Read More ->>

Batu Ginjal

Pengertian

Penyakit batu ginjal atau nefrolitiasis adalah kondisi ketika di dalam ginjal terbentuk material keras menyerupai batu. Material ini terbentuk dari limbah zat-zat dalam darah yang disaring ginjal, kemudian mengendap dan lama-kelamaan mengkristal.
Pengendapan biasanya terjadi karena Anda tidak mengonsumsi air sesuai anjuran, sedang mengonsumsi obat-obatan tertentu, atau memiliki kondisi medis yang bisa memengaruhi kadar senyawa tertentu dalam urine.
Berdasarkan jenisnya, batu ginjal dibagi menjadi empat: batu kalsium, batu asam urat, batu struvit, dan batu sistin. Perbedaan jenis batu ginjal akan memengaruhi tindakan pengobatan serta pencegahan.
Penyakit batu ginjal cukup umum terjadi pada orang-orang berusia 30-60 tahun, dan dapat diderita oleh pria maupun wanita. Namun, pria memiliki risiko lebih tinggi daripada wanita. Dari penelitian yang pernah dilakukan, hal tersebut diduga terkait dengan penyumbatan saluran kencing pria.

Diagnosis

Dalam mendiagnosis batu ginjal, awalnya dokter akan mengumpulkan informasi mengenai gejala-gejala yang dialami pasien. Dokter juga akan menanyakan apakah ada anggota keluarga yang memiliki penyakit sama, pola makan sehari-hari, apakah pasien sedang mengonsumsi sesuatu yang bisa memicu terbentuknya batu ginjal.
Kemudian, dokter akan melakukan serangkaian pemeriksaan, di antaranya pemeriksaan laboratorium berupa tes urine dan tes darah. Selain itu juga ada beragam pemindaian seperti USG, rontgen, dan intravenous pyelogram (IVP).
Tes urine dibutuhkan untuk memeriksa apakah sudah terjadi infeksi. Jika dalam sampel urine ada serpihan batu ginjal, dokter akan menggunakannya untuk mengidentifikasi jenis batu ginjal yang diderita agar penanganannya tepat.
Sedangkan tes darah dibutuhkan untuk mengetahui apakah ginjal masih berfungsi normal atau tidak, serta untuk memeriksa kadar zat-zat tertentu yang berpotensi menyebabkan terbentuknya batu ginjal.
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan melalui citra gambar yang akan membantu mengonfirmasi diagnosis serta memastikan posisi batu ginjal secara akurat. Jenis pemeriksaan citra gambar yang mungkin dilakukan adalah CT scan, X-ray, ultrasound scan, dan intravenous urogram (IVU) atau intravenous pyelogram (IVP).
Sekarang ini, CT scan adalah opsi pemeriksaan utama dalam mendiagnosis penyakit batu ginjal karena hasilnya lebih akurat ketimbang metode pemeriksaan lainnya.
Batu Ginjal

Gejala

Biasanya, jika ukuran batu ginjal sangat kecil, Anda tidak akan merasakan gejala apa pun. Batu ginjal tersebut akan keluar secara alami melalui ureter (saluran yang menghubungkan ginjal dengan kandung kemih).
Anda baru akan merasakan sesuatu jika ukuran batu lebih besar dari ureter. Pada saat akan buang air kecil, batu akan bergesekan dengan dinding ureter sehingga menyebabkan iritasi atau bahkan luka. Ini sebabnya pada urine terlihat darah. Batu juga bisa menyumbat ureter atau uretra (saluran akhir pembuangan urinee ke luar tubuh) sehingga pengeluaran urine terhambat.
Gejala-gejala lainnya dari batu ginjal dapat meliputi:
  • Nyeri punggung bawah yang berkepanjangan, kadang terasa sampai selangkangan. Pada penderita pria, nyeri juga terasa pada testis dan skrotum.
  • Sakit perut bagian samping dengan durasi bervariasi, mulai dari hitungan menit sampai jam.
  • Gelisah.
  • Tidak dapat berbaring dengan tenang karena sulit mencari posisi yang nyaman.
  • Mual.
  • Lebih sering buang air kecil dari biasanya.
  • Sakit saat buang air kecil.
Terdapat darah dalam urine—yang disebabkan oleh gesekan batu ginjal terhadap ginjal atau ureter. Saat batu ginjal menyumbat ureter akan terjadi penumpukan bakteri yang dapat menyebabkan infeksi ginjal. Gejala infeksi ginjal mirip dengan gejala penyakit batu ginjal, tetapi biasanya penderita juga akan merasakan:
  • Demam tinggi.
  • Menggigil.
  •  Kelelahan.
  • Diare.
  • Warna urine keruh dan beraroma tidak sedap.

Pengobatan

Pengobatan batu ginjal bergantung pada ukuran batu. Untuk ukuran batu kecil yang masih bisa melewati saluran kemih, dokter hanya akan menyarankan Anda untuk mengonsumsi air putih sesuai anjuran. Harapannya adalah agar batu dapat keluar sendiri bersama dengan keluarnya urine.
Apabila nyeri yang Anda rasa cukup mengganggu, dokter akan memberikan obat pereda sakit, seperti ibuprofen atau obat antiradang nonsteroid. Untuk meringankan gejala mual dan muntah, dokter akan memberikan obat antiemetik.
Jika batu ginjal sudah berpindah lokasi dari ginjal ke ureter dan menimbulkan rasa sakit cukup parah, Anda akan dirujuk untuk melakukan perawatan di rumah sakit. Umumnya, hal tersebut dilakukan untuk pasien yang hanya memiliki satu ginjal, hamil, mengalami dehidrasi, atau berusia di atas 60 tahun.
Jika ukuran batu ginjal terlalu besar (diameter minimal 6-7 mm) untuk bisa dikeluarkan secara alami, dokter akan menyarankan terapi khusus untuk mengeluarkannya. Tipe penanganan bergantung pada ukuran dan lokasi batu ginjal. Prosedur-prosedur untuk menangani batu ginjal ukuran besar adalah:
  • Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy (ESWL)
    Prosedur ini menggunakan gelombang suara frekuensi tinggi untuk menghancurkan batu ginjal menjadi serpihan kecil. Serpihan ini diharapkan bisa dikeluarkan dengan mudah secara alami. Anda akan merasa sedikit kurang nyaman dan setelahnya dokter biasanya akan memberikan obat pereda sakit. ESWL 99% efektif untuk batu ginjal dengan diameter maksimal 20 mm.
  • Ureteroskopi
    Dokter akan menggunakan alat yang disebut uteroskop. Alat tersebut akan dimasukkan ke dalam ureter untuk melihat lokasi penyumbatan. Setelah lokasi batu diketahui, batu akan dihancurkan menggunakan alat lain atau dengan bantuan laser. Anda akan dibius total saat akan menjalani prosedur ini. Ureteroskopi efektif untuk batu ginjal berdiameter maksimal 15 mm.
  • Percutaneous Nephrolithotomy (PCNL) 
Prosedur ini biasanya dilakukan apabila prosedur ESWL tidak mungkin dilaksanakan, contohnya penderita mengalami obesitas. Dokter akan membuat sayatan kecil di permukaan kulit dekat ginjal, kemudian memasukkan nephroscope yang akan menghancurkan dan mengeluarkan serpihan batu ginjal. PCNL efektif untuk batu berdiameter 21-30 mm.

Pencegahan

Penyakit batu ginjal memang memiliki kecenderungan berulang, tetapi pencegahannya sangat mudah. Anda harus memperhatikan dua hal berikut:
  • Konsumsi air sesuai kebutuhan tubuh. Jika Anda mengonsumsi cukup air, warna urine akan terlihat cerah.
  • Perhatikan pola makan. Jika batu ginjal Anda adalah jenis batu kalsium, maka hindari makanan yang mengandung banyak oksalat. Oksalat akan menghalangi penyerapan kalsium. Namun, konsultasikan dulu dengan dokter sebelum mengubah pola makan.
sumber:http://www.klikdokter.com/penyakit/batu-ginjal

Read More ->>

Penyebab, Gejala dan Pencegahan Nefritis


Penyebab, Gejala dan Pencegahan Nefritis


Penyebab, Gejala dan Pencegahan Nefritis
Ginjal


Apa Itu Nefritis?

     Apa itu nefritis? Nefritis adalah penyakit yang ditandai dengan peradangan ginjal. Ginjal adalah salah satu organ tubuh yang paling rajin bekerja selain jantung. Setiap harinya, ginjal menyaring sekitar 50 galon darah, 5 galon di antaranya adalah zat sisa metabolisme yang dikeluarkan dari tubuh dalam bentuk urin. Nefritis adalah kerusakan pada bagian glomerulus ginjal akibat infeksi kuman umumnya bakteri streptococcus. Akibat nefritis ini seseorang bisa menderita uremia ataupun edema. Uremia adalah masuknya kembali urine (C5H4N4O3) dan urea ke dalam pembuluh darah sedangkan edema adalah penimbunan air di kaki karena terganggunya reabsorpsi air. Nefritis akut banyak diderita oleh anak-anak dan remaja yang disebabkan oleh infeksi penyakit menular. Sedangkan nefritis kronis yang diderita oleh orangtua ditandai dengan tekanan darah tinggi dan pengerasan pembuluh darah ginjal.

     Ketika ginjal berfungsi dengan normal, bagian tubuh lainnya akan terus mendapatkan darah bersih yang kaya oksigen karena darah telah di saring oleh ginjal. Namun, ketika mengalami peradangan, ginjal tidak akan dapat menyaring darah dengan baik. Apabila tidak diobati, ginjal bisa terinfeksi kritis dan berhenti bekerja. Gagal ginjal merupakan penyakit yang serius, karena kotoran akan tertimbun di dalam darah dan meracuni organ tubuh lainnya.


Jenis Jenis Nefritis

     Nefritis dibedakan menjadi beberapa jenis. Setiap jenisnya dibedakan berdasarkan pada bagian ginjal yang mengalami nefritis. Tiga bagian yang biasanya terkena nefritis adalah glomerulus, tubule, dan jaringan renal interstisial.
     Glomerulonefritis, penyakit ini adalah peradangan pada pembuluh kapiler kecil di dalam ginjal yang bernama glomerulus, yang berfungsi untuk menyaring darah. Ketika mengalami peradangan, glomerulus tidak akan dapat menyaring darah dengan baik.
     Nefritis Interstisial, apabila peradangan tidak mengenai glomerulus, kemungkinan besar peradangan akan terjadi pada bagian di antara nefron yang bernama insterstitium renal, sehingga menyebabkan nefritis interstisial, terkadang dikenal sebagai nefritis tubulointerstisial.
     Pyelonefritis, kotoran yang dikeluarkan oleh darah akan dihantarkan ke kandung kemih melalu tabung yang bernama ureter. Pada beberapa kasus, peradangan akan mulai timbul di kandung kemih dan menjalar ke ureter sampai ginjal. Kondisi ini dikenal sebagai pyelonephritis.


Penyebab Nefritis

    Penyebab nefritis beragam tergantung dengan jenis nefritisnya, namun penyebab pasti dari glomerulonefritis masih belum diketahui hingga sekarang. Para dokter dan peneliti telah mengidentifikasi beberapa faktor yang memungkinkan menjadi penyebab infeksi, misalnya sistem kekebalan tubuh, riwayat kanker abses yang menyebar ke ginjal melalui peredaran darah.
     Penyebab utama untuk pyelonefritis adalah bakteri escheridhia coli (e.coli). E. coli terdapat di usus dan dapat menyebabkan infeksi di ginjal. Selain e.coli, penyebab lain dari pyelonefritis adalah batu ginjal, penggunaan sistoskop, dan operasi kandung kemih, ureter ataupun ginjal.
     Nefritis intersisial kebanyakan disebabkan oleh reaksi alergi terhadap obat obatan tertentu, penyebab lainnya adalah kadar potasium darah yang rendah.
     Selain mengetahui penyebab nefritis diatas, ada baiknya anda juga mengetahui apakan anda berisiko menderita nefritis.


Gejala Nefritis

     Berikut adalah beberapa gejala yang paling umum penyakit nefritis.
» Demam.
» Hematuria atau darah dalam urin.
» Proteinuria atau protein dalam urin.
» Tekanan darah tinggi.
» Kerusakan fungsi hati.
» Nyeri perut yang menjalar sampai ke ginjal.
» Urin keruh.
» Pembengkakan, terutama di ujung atas dan bawah wajah.
» Sering buang air kecil.
» Mual mual.
» Muntah.
» Anemia.
» Mata sembab.
     Gejala gejala tersebut  tidak selalu terjadi pada semua jenis nefritis, namun juga pada penyakit dan gangguan kesehatan lainnya.

Cara Mencegah Nefritis

» Perbanyak minum air putih.
» Rutin berolahraga.
» Perbanyak mengkonsumsi buah dan sayur.

Pengobatan Nefritis

     Selain cuci darah dan cangkok ginjal, cara mengobati penyakit nefritis bisa dengan menggunakan obat-obatan seperti actacef, arcamox, bactesyn, ceclor kapsul, celcoid, clabat, clavamox, corsatet, corvox, cravat, cravox, difloxin, erabalox, ethidol, exion, gunametrim, impersial, macrofluran, ospen, mosardal, qizol, prolevox, soclor, reskuin, temasud, urinter, tizos, volequin dan zinnat. Obat tersebut harus berdasarkan resep dokter.
sumber:https://pustakasehatku.blogspot.co.id/2015/10/penyebab-gejala-dan-pencegahan-nefritis.html


Read More ->>

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Laman

About Me

farhan nafiss
Lihat profil lengkapku

Followers